print this page Klik Print

Khiththah Idaratul Ma’rakah

(Langkah-langkah Mengelola Pertempuran)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin
Dalam sebuah perjuangan pertempuran yang secara terus-menerus kita hadapi, yang paling pertama yang harus betul-betul mendapat perhatian adalah:

Khiththah Takhthithiyah (Strategi perencanaan)

Strategi perencanaan Insya Allah selalu mendahului setiap ma’rakah  yang dilalui dakwah kita ini. Dari awal ta’sis seluruhnya dengan perencanaan. Secara amaliyan dan tanzhimiyan seluruhnya terencana secara baik. Sudah tentu pelibatan-pelibatan terhadap perencanaan semakin luas dan akhirnya Alhamdulillah, lembaga perencanaan semakin kokoh, semakin kuat, dan pelibatannya semakin luas. Insya Allah ini akan menimbulkan efek positif di dalam jama’ah dakwah kita.

Di era saat ini, kita harus mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah bagaimana kita pun menerima asupan-asupan dan masukan-masukan dari public. Dan itu juga sudah antum harus lakukan agar betul-betul apa yang kita rencanakan itu bernilai aspiratif tinggi. Umat pun dilibatkan dalam perencanaan. Bahkan komponen bangsa dari aneka ragam kelompok atau komunitas di bangsa ini pun ikut terlibat dalam memberikan kontribusi dalam perencanaan kita. Itu seharusnya selalu kita lakukan.

Kalau tidak kita lakukan pelibatan-pelibatan yang luas itu, maka langkah kita akan terhenti. Tidak mungkin—na’udzubillah—maju dari mihwar muassasi menuju mihwar daulah kalau pelibatan-pelibatan itu hanya berputar-putar secara internal. Pelibatan-pelibatan harus menjadi luas, termasuk dalam bahan-bahan perencanaan sekalipun.

Khiththah Tajmi’iyah (Langkah Menghimpun)

Khiththah tajmi’iyyah yaitu jam’ut thaaqah (menghimpun potensi) yang meliputi hal-hal berikut: Pertama, Al-Muhafazhah ‘ala muktasabat, memelihara apa yang sudah kita hasilkan, yaitu potensi jama’ah dakwah ini, potensi kebersamaan dalam jama’ah ini, potensi ukhuwah, potensi ta’awun, potensi tadhamun. Inilah modal awal kita. Semangat kebersamaan bukan saja harus utuh, tapi harus semakin berkembang, harus semakin produktif. Tidak boleh ada yang merasa terlepas dari hadlanatul jama’ah (pelukan asuhan jama’ah). Tetap semuanya ada dalam kehidupan amal jama’iy, yang disana merasakan ada kehangatan, al-hanun. Hananatul Umm, bagaikan hangatnya pelukan ibu yang dilakukan oleh jama’ah.

Kedua, isyrakul ghair. Sudah barang tentu kita juga harus dapat menghimpun potensi luar. Salah satu indicator keberhasilan musyarakah adalah isyrakul ghair (pelibatan orang lain). Ia adalah suatu kerja yang produktif. Jika musyarakah tidak berhasil melakukan khutuwat tajmi’iyah potensi-potensi di luar jama’ah kita, berarti musyarakah kita gagal. Kita cuma numpang hidup tapi tidak memberikan harapan hidup bagi orang lain.

Kekokohan potensi internal, semangat kebersamaan harus tetap dibangun, dibina, dikokohkan. Begitu juga kebersamaan dalam ruang lingkup keumatan, kehidupan berbangsa dan bernegara harus kita kembangluaskan.

Khuthuwat tauzhifiyah (Langkah Pemungsian)

Setelah dihimpun, semua orang harus difungsikan. Tidak boleh ada yang marginal, yang merasa disisihkan, yang merasa disepelekan. Seluruhnya harus berfungsi, harus berperan. Sebab kalau orang berposisi mauqif janibi (potensi yang marginal) nantinya menjadi beban, bahkan menjadi ancaman, menimbulkan ma’rakah janibiyah (pertempuran sampingan). Kalau dibiarkan akan timbul ma’rakah dakhiliyah (pertempuran di dalam). Ini akibat tidak terfungsikannya potensi. Disinilah pentingnya kemampuan kita dalam tauzhif, melakukan tanassuq kulli (sinkronisasi secara integral) ataupun tanassuq dzati (sinkronisasi secara sektoral).

Lihatlah air ketika terhimpun di dalam kolam lalu tidak ada output. Dia sudah masuk dalam wadah yang benar, sudah masuk ke dalam mudkhala shidqin, tapi kalau tidak diberi mukhraja shidqin, air itu akan menjadi kotor. Tumbuh lumut dan seterusnya. Tapi kalau air itu masuk melalui prosedur yang benar, dan ditata secara benar potensinya, mengalir secara benar, insya Allah air itu akan tetap bersih dan tetap mengalir, tetap menggerakkan dan bahkan menggerakkan yang lain.

Manusia juga sama. Dihimpun dalam jama’ah, lalu dihimpun dalam suatu wadah besar perjuangan dakwah.Tapi bila tidak difungsikan secara benar dan digerakkan secara baik, maka dia akan menjadi kotor. Bisanya polusi yang mudah terasa itu muncul di mulut. Mulutnya mulai kotor. Itu bisaanya karena kurang kerjaan. Kalau orang itu sibuk kerja, punya wazhifah yang benar-benar sibuk, tidak sempat berkata usil segala macam. Mulai kotor dari mulut, nanti kepada ruhnya. Apalagi sekarang bisa diwakilkan lewat sms, bisa didelegasikan ke sms, ke internet dan sebagainya. Itu adalah efek dari masalah tauzhif yang kurang maksimal.

Khuthuwat Tahfizhiyah (Langkah Pemeliharaan)

Khuthuwat Tahffizhiyah itu ada lima. Yaitu: musyarakah ‘indal qarar (musyarakah dalam menentukan ketetapan), tasyji’ ‘indal ijtihad (dorongan berijtihad), da’m indal tanfidz (dukungan dalam pelaksanaan), I’tiraf ‘indal injaz (pengakuan ketika berhasil), inshaf ‘indal khatha (bersikap adil ketika menghadapi kesalahan).

Musyarakah ‘indal qarar
Semakin besar jama’ah dakwah kita, maka kreasi kita dalam memberikan tauzhif (pemungsian) dan tahfizh (pemeliharaan) kepada seluruh komponen jama’ah harus kreatif kita ciptakan. Coba diadakan tampungan-tampungan. Bisa jadi dapat dihadirkan orang luar untuk merangsang tumbuhnya ide-ide atau aspirasi tersebut. Pelibatan semakin luas, sense of belonging dari berbagai komponen semakin kuat terhadap jama’ah dan dakwah ini.

Tasyji’ ‘indal ijtihad
Aspirasi-aspirasi jangan disumbat. Ijtihadat mulai dikembangkan terus menerus. Jangan berhenti. Kita selalu inovatif dalam langkah-langkah dakwah. Jangan sampai menjadi jenuh dan bosan karena ijtihad dan aspirasi inspirasi terhenti.

Da’m indal tanfidz
Dukungan diberikan ketika melaksanakan tugas. Minimal dengan do’a. Syukur-syukur dengan dana. Jadi semua ikhwah merasa didukung dalam melaksanakan tugasnya. Jangan sampai terjadi betapa pun kita sudah melakukan pembagian tugas, melakukan kompartemensasi. Kehidupan jama’ah ta’awun ini harus hidup. Jangan sampai nafsi-nafsi. Kita harus jama’iy ta’awuniy. Da’m itu bisa bersifat da’m ikhawi (dukungan persaudaraan) dan da’m tanzhimi (dukungan structural). Kalau da’m tanzhimi sifatnya structural, sedangkan da’m ikhawi sifatnya personal tanpa melihat jabatan dan bidangnya. Ini penting dilakukan supaya kokoh amal jama’i kita. Jadi jangan sampai melihat sesuatu tidak berjalan dibiarkan saja karena bukan tugas kita. Paling tidak kita memberikan saran, mendo’akan, syukur juga bila memikirkan pendanaannya, pembiayaannya antar bidang atau antar personal.

I’tiraf ‘indal injaz
Pengakuan-pengakuan akan keberhasilan harus ada. Pengakuan itu penting karena seseorang merasa diakui eksistensinya. Bukan hanya secara fisik, secara structural, tapi secara amaliyah. Apalagi kita juga pengalaman menyediakan hadiah-hadiah bagi wilayah tertentu atau bagi komunitas tertentu. Dimana kita menghadiahkan umroh, bahkan hadiah haji dan seterusnya. Itu adalah bagian dari I’tiraf ‘indal injaz.

Al-Inshaf ‘indal khatha
Adil menyikapi kesalahan. Ingat, dalam ma’rakah ini pelakunya adalah manusia. Kemungkinan ada salah, kemungkinan kepeleset adalah sebuah kewajaran. Itu adalah unsur dari sifat kemanusiaan. Mahallul khatha’ wa nisyaan adalah manusia. Manusia disebut insan itu karena suka lupa. Oleh karena itu inshaf, jangan sampai mengukur ikhwah, teman berjuang dan orang dari luar dengan ukuran yang tidak mungkin salah.

Kita harus memberikan jatah salah, tapi jangan meminta jatah salah. Kepada setiap orang diberikan space kemungkinan bersalah. Sehingga kalau salah jangan kaget. Kemudian kalau terjadi salah, jangan serta merta lalu memuhasabah dia, tapi muhasabah diri kita dulu. Apa kontribusi kita sehingga dia tidak bersalah. Atau bahkan apa kontribusi kita sampai dia salah. Siapa tahu kita ikut andil dalam membuat dia salah. Jadi ittihamu dzat (menuduh diri sendiri) adalah menjadi akhlak da’i. Dengan pendekatan ma’nawiyah seperti itu, ketika kita memuhasabahi dia menjadi lembut, santun, menjadi nyaman bahasanya. Tapi kalau belum apa-apa sudah cenderung menyalahkan dulu, akan membuatnya lari dan jauh. Akan lebih buruk akibatnya.

Khuthuwat Riqabiyah (Langkah Pengawasan)

Jangan lupa dengan khuthuwat riqabiyah, sebab langkah kita itu harus teratur dan terukur. Keteraturan dan keterukuran itu awalnya dari takhtith (perencanaan), ujungnya itu riqabah (pengawasan). Antara perencanaan dan pengawasan adalah dua sejoli yang tidak boleh dipisahkan. Sudah barang tentu sebagai pimpinan dalam pengawasan harus bijak, harus tetap melihat dari sudut pandang kemanusiaan. Riqabah itu bukan yufattisy, tapi memantau. Sebab yufattisy itu ngorek-ngorek. Dan pemantauan yang paling mudah itu adalah dari efek-efek kerja, efek bergerak dan hasil pekerjaan.

Riqabah itu bukan hanya kepada perencanaan-perencanaan kita. Karena di lapangan itu yang bergulir adalah aneka program. Di lapangan itu bias jadi terjadi tadharrub (saling bertabrakan) antara program kita dengan program orang lain. Tapi bias jadi juga ada tawafuq (saling kesesuaian) dalam titik tertentu. Nah dalam tawafuq itulah kita bias mengambil keuntungan-keuntungan dari program-program orang lain.

Apalagi di Indonesia ini seluruh rival kita, yang sekuler sekali pun konstituennya, pimpinannya adalah umat Islam juga. Sehingga mungkin saja muncul langkah-langkah mereka yang ada tawafuq. Dan kita tidak bisa melihat itu kalau kita tidak mempunyai ijabiyatur ruýah (pandangan positif). Pandangan positif itu dasarnya adalah begini: Al-Islam kullul haq (Islam itu seluruh kebenaran), Al-Haqqu kulluh (seluruhnya benar) adalah Islam. Tapi di luar Islam bisa jadi ada juzún minal haq (sebagian dari kebenaran). Karena kebenaran itu selain bersumber dari wahyu, juga bersumber dari fitrah. Walaupun ia di luar lembaga Islam, fitrahnya kan ada. Akhirnya muncul juga kebenaran dari fitrah itu pada berbagai macam orang. Makanya kita tidak boleh menggeneralisir kepada orang lain dengan mufaraqah, dengan landasan furqan: kita benar semuanya, mereka salah semuanya. Kita harus melihat dengan ijabiyatu ruýah kemungkinan adanya unsur-unsur tawafuq dari segi program atau tawafuq dari segi personal.

Khuthuwat Tarbawiyah (Langkah pembinaan)

Artinya segala potensi yang dihimpun, terutama dari luar ke dalam, harus ada langkah-langkah muhafazhah (penjagaan) kepada mereka. Muhafazhah thaaqah (potensi) harus dipelihara. Jangan sampai potensi yang sudah kita gunakan lalu terbengkalai. Tidak dipelihara, tidak dijaga hubungan, tidak ada komunikasi, tidak ada pelibatan-pelibatan lanjutan, tidak ada pengembangan-pengembangan lanjutan. Harakah ini harus menjaga potensi yang disertakan dalam setiap marhalah untuk ikut ke dalam marhalah berikutnya. [ ]

Animated Recent Post

Recent post menunjukkan apakah post terbaru yang baru dihasilkan oleh seseorang blogger untuk blognya. Adanya animated recent post widget, dapat menambahkan lagi 'seri' bagi senarai recent post anda.



.Tutorial untuk membuat animated recent post ini adalah seperti berikut.

1. Dari dashboard > design > add a gadget > HTML/javascript

2. Copy dan paste kod di bawah ke dalam ruangan HTML/javascript yang anda buka.


<style type="text/css">
#rp_plus_img{height:377px;}
#rp_plus_img li {height:60px;padding:5px;list-style:none;
background-color:#ffffff;
border:solid 1px #000000;}
#rp_plus_img a{color:#00000;}
#rp_plus_img .news-title{display:block;font-weight:bold ;margin-bottom:4px;font-size:11px;
text-align:justify;
-moz-border-radius: 5px;}
#rp_plus_img img{float:left;margin-right:14px;padding:4px;border:solid 1px #00000;width:55px;height:55px;}
</style>
<script type="text/javascript" src="http://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.4.2/jquery.min.js"></script>
<script type="text/javascript" src="https://sites.google.com/site/unwanted86/javascript/recentpost.js"></script>
<script type="text/javascript">
var speed = 1500;
var pause = 3500;
$(document).ready(function(){
rpnewsticker();
interval = setInterval(rpnewsticker, pause);
});
</script>
<ul id="rp_plus_img">
<script style="text/javascript">
var numposts = 5;
var numchars = 0;
</script>
<script src="/feeds/posts/default?orderby=published&alt=json-in-script&callback=rpthumbnt"></script>
</ul><small><a href="http://rabbani79.blogspot.com/2013/05/animated-recent-post.html" target="_blank">rabbani79.blogspot.com</a></small>

3. Save dan lihat hasilnya. Selamat mencoba

sumber

Teman yang Membahagiakan


Menjalin pertemanan tentu hal yang menyenangkan bukan? Apalagi pertemanan yang terjalin sudah cukup lama, bahkan sudah menjadi pelengkap satu sama lain. Tawa, sedih, suka duka, canda pasti pernah dirasakan bersama. Dan tak hanya itu, banyak pelajaran yang bisa diambil dalam hubungan pertemanan. Lalu bagaimana mempertahanakan sebuah hubungan pertemanan??
1. Pasang Niat
 
Diantara kita banyak yang melupakan hal ini.  Menjalin hubungan pertemanan begitu saja tanpa ada niat dan visi menambah kebaikan.  Padahal, bukankah kebaikan itu bernilai pahala? Nahhh… coba landasi niat baik pertemanan karena Allah Ta’ala. Insya Allah kalau hal ini menjadi pijakan dasar pertemanan pasti segala permasalahan yang terjadi dalam pertemanan dapat terselesaikan dan bahkan bisa jadi lebih baik dan lebih dekat. Kecewa, kesal, marah pasti ada dalam pertemanan. Namun menjaga niat dan visi hanya karena Allah, Insya Allah, segala permasalahan terpecahkan dengan baik.
2. Kenali Temanmu
 
Sudah mengenal lama, apa yakin bisa menilai seseorang secara keseluruhan? Bukankah sifat seseorang bisa berubah-ubah? Mmmm…. Point terpenting juga dalam menjaga kelanggengan pertemanan adalah mengenali Ia sepanjang pertemanan berlangsung lalu teruslah beradaptasi. Dalam proses adaptasi itu, coba kenali pahami hal apa yang membuatnya marah , kecewa atau bahkan suatu hal yang bisa mengubahnya.
Jangan sampai ternyata ada perkataan yang membuatnya minder, tersinggung atau merasa rendah diri. Hindari suudzan dan juga latih diri agar teman kitapun tidak memunculkan perasaaan suudzan. Karena bisa jadi prasangka buruk (suudzon) muncul karena kita sendiri yang membuat peluang prasangka tersebut.
c  3. Memberilah 
Bukankah ajaran kita juga mengajarkan untuk saling menyanyangi? Salah satunya adalah melalui pemberian hadiah. Ini salah satu cara agar timbul kasih sayang diantara kita. Banyak cara lain juga untuk memunculkan rasa kasih saying, misalnya pasang  foto bersama di Display Picture BB ,saling mengirim pesan pengingat dan yang pasti hal yang tidak boleh dilupakan juga mendoakan dia dalam keadaaan dia tahu atau tidak. Bukankah mendoakan orang lain, sama saja mendoakan diri kita sendiri? Yuks sebut nama teman dalam panjatan doa kepada Allah SWT.
4. Perhatikan Gaya hidup
Kenapa perhatian terhadap  gaya hidup teman adalah salah satu caranya? Hmmm.. coba deh, muhasabah lagi gaya hidup kita. karena bisa jadi gaya hidup kita yang berkecukupan membuat teman minder,  sengaja atau tidak membuat hati teman lemah dengan perkataan yang menyudutkannya. Misalnya, bukankah dalam pertemanan berbeda pendapatan pasti akan terjadi?
Pendapatan berbeda tentu gaya hidup pun berbeda. Disinilah point kita untuk bisa menempatkan diri, karena bisa jadi gaya hidup kita yang berkecukupan secara tidak sengaja terbawa hingga kepertemanan, sehingga teman yang biasa-biasa saja agak sungkan untuk bergabung kepada kita.
Tempatkan posisi kita di tempat yang aman. Coba masuki dan pahami gaya hidupnya. Walaupun berbeda pendapatan jangan sampai menyinggung atau bahkan teman yang awalnya nyaman menjadi tidak nyaman saat bersama kita. alhasil sayang banget seandainya kehilangan satu teman karena keegoisan kita.
     5. Maafkanlah
Tidak dipungkiri perbedaan pendapat dalam pertemanan pasti ada. Kuncinya adalah memaafkan. Coba tekan lagi ego yang ada dalam diri, ingat kembali niat awal pertemanan. Kalau hanya Allah yang menjadi landasan awal pertemanan memaafkan itu akan mudah. Dan iringi juga dengan berbuat baik maskipun pernah tersakiti. Lakukanlah kebaikan itu. karena Allah Maha Tahu dan tidak mungkin disia-siakan. Yakinlah setiap perbuatan memiliki ganjarannya.
Dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan yang buruk itu seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya atau engkau membelinya atau engkau hanya akan mencium harumnya. Sementara pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium bau yang tidak sedap” (Bukhari dan Muslim).
Melalui hadits tersebut, semoga kita senantiasa menjadi seorang teman yang selalu membawa “keharuman” (red-Kebahagiaan) untuk teman kita, karena sejatinya bila seorang teman sudah bahagia bersama kita tidak menutup kemungkinan terbukanya ragam ilmu yang akan kita peroleh dan pintu silaturrahmi pun akan luas terbuka

Tipudaya, Kecerdikan, dan Latihan Berpikir

Abbas Hasan As Sisi

Saya sangat “kagum” pada orang-orang Yahudi. Sampai hari ini, mereka masih tetap membuahkan idea-idea baru tentang tipudaya dan rekacipta dengan berbagai macam variasinya. Seakan mereka memiliki lembaga khusus tentang hal ini, baik dalam bidang perdagangan, peperangan, maupun politik.

Saya teringat sebuah anekdot yang terjadi di kota Rasyid, sejak sebagian bangsa Yahudi berdomisili di sana. Ada seorang Yahudi menjual rumahnya kepada seorang penduduk kota Rasyid dengan transaksi yang resmi. Setelah beberapa tahun berlalu, datanglah orang Yahudi tersebut ke sekitar rumah itu dengan membawa sejumlah batu bata, kayu bangunan, semen, dan kapur. Ketika pemilik rumah bertanya, “Apa yang sedang Anda kerjakan di sini?”

Ia menjawab, “Saya datang untuk membangun!”

“Mau membangun apa?” tanya pemilik rumah?

 ”Saya akan membuat bangunan baru di atas rumah ini!” jawab Yahudi.

“Bukankah rumah ini sudah kamu jual dan telah kamu terima uangnya beberapa tahun lalu?” kata pemilik rumah.

Si Yahudi menjawab, “Ya, tetapi yang saya jual hanya sampai atap rumah. Masih menjadi hak saya untuk membangun di atas atapnya sampai setinggi-tingginya!”

Anekdot ini terjadi sebelum pendudukan bumi Palestina, Jalur Gaza, dan Tepi Barat Sungai Yordan. Sekarang Israel mengatakan, “Bangsa Arab boleh tinggal di bumi Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan, tetapi tidak punya hak milik sama sekali. Bumi ini tetap milik Israel.” Masih sama saja, itulah tipudaya Yahudi. Apa bedanya antara malam ini dengan kemarin malam!

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sangat memahami tipudaya Yahudi yang dapat menaklukkan dunia itu. Ketika menjadi khalifah, beliau menjumpai seorang Yahudi di Madinah, yang menyimpan sumur penampung air. Ia menguasai sumur itu, yang airnya dijual kepada kaum Muslimin. Maka khalifah menawar kepada Yahudi agar menjual sumur itu kepadanya, untuk disedekahkan kepada kaum Muslimin. Tetapi si Yahudi itu menolak tawaran khalifah. Kemudian khalifah mengatakan, “Juallah sebagian sumur ini padaku, yakm kamu meng-ambil air sehari dan saya juga mengambil air sehari!”

Akhirnya Yahudi itu setuju. Khalifah berkata, “Kaum Muslimin berhak mengambil air secukupnya pada hari giliranku. Pada saat giliranmu mereka tidak akan mem-belinya sedikit pun!”

Setelah beberapa hari, ia merasa  tertekan karena embargo kaum Muslimin kepadanya. Maka tidak ada alternatif lain kecuali ia harus menjual bagiannya kepada Khalifah.

Semoga kisah ini dapat menyadarkan dan menggugah pikiran kaum Muslimin. Yang lalu biarlah berlalu, kebaikan pasti akan datang.

Suatu hari, Khalifah Al Mahdi sedang duduk-duduk bersama beberapa orang, tiba-tiba masuklah seorang lelaki dengan membawa sandal yang terbungkus sapu tangan.

Lelaki itu berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, ini adalah sandal Rasulullah, saya hadiahkan untuk Tuan!”

Beliau pun menerima dan meletakkan di hadapannya, lalu menyerahkan sepuluh nbu dirham kepada lelaki tersebut. Ketika ia pergi, beliau berkata kepada orang-orang yang sedang duduk bersamanya, dan membuat mereka semua terkejut “Saya tahu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mungkin pernah melihat sandal itu, apalagi memakainya. Tetapi bila kita dustakan orang tadi, ia akan menyebarkan fitnah kepada orang lam. Sebaliknya, bila ia kita terima maka ia akan mengatakan kepada orang lain, ‘Saya telah menghadap khalifah dengan membawa sandal Rasulullah, tetapi beliau malah mengembalikan lagi sandal tersebut kepada saya, bahkan saya menerima hadiah.”‘

Beliau tidak tergesa-gesa bertindak sebelum berpikir. Bahkan beliau berpikir sebelum bersikap. Itulah sikap yang bijak.

sumber

Peran Perwira Muslim Jepang Dalam Upaya Kemerdekaan Indonesia

Sangat sedikit orang Indonesia yang mengetahui tentang jejak sejarah Islam di Jepang, apalagi mengenai profil Abdul Hamid Nobuharu Ono alias Abdul Hamid Ono, seorang perwira Jepang yang beragama Islam dan bertugas di Jakarta sejak Perang Dunia II.

Agama Islam sendiri sudah hadir di Jepang sejak akhir abad ke 18, khususnya ketika Kekhilafahan Turki Ottoman di bawah pemerintahan Sultan Abdul Hamid II (1876 – 1909) mengirimkan sebuah kapal angkatan laut, Ertugrul, dengan tujuan memulai hubungan diplomatik serta memperkenalkan Agama Islam ke Negeri Sakura itu pada tahun 1890 M.

Terkait hal ini Agus Lydiarto dalam artikel “Sejarah Islam di Jepang” menulis bahwa kapal Ertugrul mengalami musibah badai besar dalam perjalanan pulang ke Istambul setelah menyelenggarakan pertemuan dengan Kaisar Jepang. Musibah ini menyebabkan lebih dari 550 diplomat dan awak kapal kekhalifahan Turki Ottoman meninggal dunia, termasuk Laksamana Othman Pasha yang memimpin misi diplomatik tersebut.

Abdul Hamid Ono terlibat sangat aktif dalam upaya diplomasi yang dilakukan oleh KH Abdul Wahid Hasyim untuk membebaskan Rais Akbar Pengurus Besar Nahdlatul U’lama (PBNU), Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, dari tahanan pihak militer Jepang. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, itu ditahan oleh penguasa militer dari Negeri Matahari Terbit sejak tahun 1942 ketika mulai menjajah wilayah Hindia-Belanda (Indonesia).

Peran penting Abdul Hamid Ono sebagai pembuka jalur komunikasi dan diplomasi antara pihak Ponpes Tebuireng dengan para perwira Jepang terlihat jelas dalam buku Seri Tempo: Wahid Hasyim (Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan) yang menjelaskan bahwa ia adalah pejabat dinas rahasia Jepang yang dekat dengan keluarga Asy’ari. Beliau bertugas di Gresik, Jawa Timur, semasa pendudukan Belanda dan sering berkunjung ke Ponpes Tebuireng (hlm 72, 2011).

Hal senada juga dinyatakan oleh Aboebakar dalam bukunya, Sedjarah Hidup Wahid Hasyim, yang memastikan peran penting Abdul Hamid Ono dalam membuka pintu komunikasi dan diplomasi agar KH. Wahid Hasyim, putra sulung Hadratus Syaikh, bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah dapat menemui pembesar-pembesar Negeri Samurai di Jakarta. Akhirnya komunikasi dan diplomasi yang dilakukan oleh keduanya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya Hadratus Syaikh dari terali besi oleh pihak Jepang pada 18 Agustus 1942, empat bulan setelah beliau digelandang dari Ponpes Tebuireng. 

Dengan demikian perubahan pandangan Jepang terhadap organisasi keagamaan dengan tidak menganggapnya lagi sebagai ancaman terhadap pendudukan mereka di Indonesia merupakan hasil dari upaya lobi, diplomasi dan pendekatan intensif yang dilakukan oleh KH Abdul Wahid Hasyim, KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Abdul Hamid Ono terhadap para perwira pendudukan Jepang di Indonesia.

Sejak saat itu terjadi kolaborasi politik antara sebagian besar kalangan ummat Islam di Indonesia dengan para perwira pendudukan Jepang melalui pembentukan sejumlah organisasi dan birokrasi seperti Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), Kantor Urusan Agama (Shumubu), Majalah Soeara MIAI dan PETA (Pembela Tanah Air).

Bahkan pasukan paramiliter khusus untuk ummat Islam seperti Hizbullah (Laskar Allah) dan Sabilillah (Jalan Allah) juga dibentuk oleh Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), organisasi pengganti MIAI, atas izin pemerintah Jepang.

Terkait hal ini Prof. Harry Jundrich Benda menjelaskan dalam bukunya, Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang (1980) bahwa sejak pertengahan tahun 1920-an lembaga studi dan majalah yang membahas masalah Islam telah muncul di Jepang. Suatu pameran dan kongres Islam telah diadakan di Tokyo dan Osaka pada November 1939 dengan dihadiri oleh delegasi MIAI dari Indonesia, bahkan Prof. Kanaya, seorang ahli Islam, juga berangkat ke Indonesia untuk memperkuat ikatan ummat Islam kedua bangsa segera setelah kongres selesai.

Dalam buku yang diterjemahkan oleh Daniel Dhakidae itu dijelaskan juga tentang pendekatan Jepang terhadap ummat Islam di Indonesia yang dilakukan secara gencar dengan menekankan persamaan antara Shinto dan Islam mengenai konsep Hakkoichiu (Persaudaraan Sejagad), silaturrahmi dengan para pemuka MIAI, dan membuka Shumubu.

Adapun langkah-langkah strategis lainnya ialah dengan menjamu para pemimpin Islam di Hotel Des in Des yang mewah dan menampilkan ‘Haji-haji Tokyo’ seperti Abdul Hamid Ono, Abdul Mun’im Inada, Muhammad Taufik Suzuki dan Yusuf Saze serta mengizinkan terbitnya majalah Soeara MIAI sejak januari 1943.

Huda Nuralawiyah yang meresensi buku ini pun menyatakan bahwa bendera PETA bukanlah merah-putih melainkan bulan sabit di atas matahari terbit yang melukiskan perang suci Islam Indonesia terhadap imperialis barat yang Kristen. Peta merupakan angkatan bersenjata Indonesia pertama yang dibentuk Jepang (hlm 174-175).

Bahkan Gunseikan memutuskan bahwa hari Jum’at libur setengah hari bagi kantor pemerintah sejak 1 Mei 1945, mulai dicetaknya Al-Qur’an yang pertama kali di Negeri Garuda pada 8 Juli 1945 dan didirikannya Universitas Islam Indonesia (UII) dengan Abdul Kahar Muzakkir sebagai ketua.

Dengan demikian Abdul Hamid Ono, Prof. Kanaya dan perwira-perwira Muslim Jepang lainnya merupakan pihak yang sangat berperan penting dalam mendekatkan hubungan antara umat Islam di Indonesia dan Jepang serta menjadi penyambung, penghubung sekaligus kolaborator antara kepentingan ummat Islam di Indonesia dengan penguasa militer Jepang.

Penulis:
Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P - Staf Peneliti di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) Universitas Indonesia
Anggota Forum Alumni (Forluni) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UI dan Ikatan Sarjna Nahdlatul U'lama (ISNU)
 
Keterangan Gambar:
Ilustrasi Bendera Tentara PETA

Baca Juga

Khalid Ibn Walid R.A. | Sang Ksatria Bergelar "Pedangnya Allah"

Khalid ibn Walid R.A. bertarung melawan Rasulullah S.A.W. dan sahabat-sahabatnya, dia bertanggung jawab atas terlukanya Rasulullah S.A.W. Dialah orang satu-satunya yang mengalahkan umat muslim selagi Rasulullah S.A.W. berada di antara mereka.

Tapi bukan karena inilah dia menjadi terkenal. Kita mengenalnya karena Rasulullah S.A.W. memberinya gelar yang spesial yaitu “Saifullah (Pedang Allah).”

Ketika Umar ibn Khatab R.A. adalah khalifah, dia meminta kepada Khalid “Khalid, aku ingin kau menaklukkan Romawi. Berapa banyak prajurit yang kau butuhkan?” Khalid R.A. berkata “Berikan aku 500 prajurit.” Umar bin Khatab R.A. mengingatkannya, “Ya Khalid, mereka mempunyai kira-kira 100.000 prajurit.” Khalid berkata, “Kalau begitu, berikan aku tambahan 500 prajurit lagi.” Umar memintanya untuk membawa 10.000 prajurit bersamanya, tapi Khalid tidak ingin 10.000 prajurit. Dia berkata “Orang-orang kafir itu, Allah hanya memberikan mereka potongan kecil dari dunia, tapi Allah memberikan kita akhirat. Dan Demi Allah, jika aku pergi kesana hanya dengan 10 orang beriman, maka kami akan kembali dengan kekuatan mereka dan kemenangan.”

Inilah keyakinannya. Karena para sahabat Rasulullah S.A.W., hati mereka tidak terpikat kepada dunia, dan mereka hanya memikirkan akhirat.

Allah memberikan mereka ‘Izzah, Allah memberikan mereka kekuatan. Dan kekuatan itu sudah terasa bahkan sebelum mereka bertemu dengan orang-orang kafir. Dan sekelompok kecil prajurit itu dibandingkan dengan jumlah prajurit orang-orang kafir, sudah cukup bagi Khalid R.A. Masya Allah, dia kembali dengan kemenangan.

Pada 4 tahun terakhir kehidupan Khalid ibn Walid R.A., dia diturunkan pangkatnya, tidak diperbolehkan pergi ke medan perang. Ini adalah ujian terbesar bagi Khalid ibn Walid R.A. Setelah Hira selama 6 bulan, dia diberhentikan dari medan perang. Dan Khalid R.A. menjuluki tahun itu sebagai “Tahun-tahun wanita” karena dia tidak bisa pergi berperang.

Dan riwayat menceritakan bahwa Khalid R.A. tidak membuang-buang waktunya. Pada masa itu, Khalid ibn Walid membaca Al-Qur’an. Dia berkata “Jihad telah menghentikanku dari belajar Al-Qur’an.” Sekarang dia bertekad mempelajarinya. Dia membaca Al-Qur’an dari fajr hingga dzuhur, dan terus-menerus menangis karena takut kepada Allah.

Dan setelah 4 tahun menjelang wafatnya Khalid R.A. Subhanallah, dapatkah kau bayangkan bahwa dia orang yang berperang dalam banyak pertempuran, menghancurkan negara-negara perkasa, tapi dia wafat di tempat tidurnya?  Khalid R.A. berkata “Kau tahu, ketika Umar R.A. menurunkan jabatanku, aku merasa kecewa, tapi sekarang aku sadar, bahwa apa yang Umar lakukan adalah tindakan yang tepat, karena Umar R.A. hanya menginginkan yang khair (baik) bagi orang-orang beriman. Dan aku tidak merasa kecewa kepada Umar R.A."

Dan dia sudah dekat dengan kematiannya, dan riwayat menceritakan bahwa ketika orang-orang menjenguknya, dia akan menunjukkan tangannya, dan tidak ada sejengkal jarak pun di tangannya, kecuali ada bekas luka di tangannya. Dia menunjukkan tangan kanannya, tangan kirinya, dadanya, dan kakinya.

Dia berkata “Lihatlah aku, aku bertempur dalam ratusan peperangan, banyak pertempuran, tapi aku sekarat di tempat tidurku?” Seseorang berkata kepada Khalid R.A. “Wahai Khalid, tidakkah kau mengerti, ketika Rasulullah S.A.W. menjulukimu sebagai ‘pedangnya Allah’, maka tidak mungkin kau gugur dalam pertempuran, karena jika kau gugur dalam pertempuran, berarti pedangnya Allah telah berhasil dipatahkan orang-orang kafir, sedangkan pedangnya Allah tidak akan bisa terpatahkan.”

Dan Khalid R.A., bertolak belakang dengan keinginannya, dia meninggal di tempat tidurnya. Tapi ketahuilah, dalam pertempuran Mu’tah, Khalid R.A. mematahkan sembilan pedang. Kenapa? Karena itu semua adalah pedangnya Khalid R.A., sedangkan Khalid sendiri adalah pedangnya Allah, jadi dia tak pernah bisa dipatahkan. Dan dia adalah orang yang menaklukkan dua bangsa adikuasa, namun meninggal di tempat tidurnya.

Kenyataannya adalah, kenapa dia tidak mati syahid? Bukankah Rasulullah S.A.W. bersabda tentang orang yang mati syahid? Bahwa jenazah orang yang mati syahid tidak dimandikan, karena darahnya akan bersaksi dan bersyahadat di hari kiamat. Pakaiannya tidak diganti, karena pakaiannya akan bersaksi untuknya di hari kiamat. Jenazah orang yang mati syahid tidak dishalati menurut para fuqaha. Kenapa? Karena Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Q.S. Ali Imran:169)

Kenyataannya adalah, kemungkinan pakaiannya Khalid R.A. tidak akan bersaksi terhadap syahadat-nya, darahnya kemungkinan tidak akan bersaksi terhadap syahadatnya, tapi Demi Allah, setiap orang yang mati syahid dari umat ini akan bersaksi untuk Khalid ibn Walid R.A., karena tidak ada seorang syahid dari umat ini yang tidak terinspirasi oleh Khalid ibn Walid R.A.

Dan riwayatnya menyebutkan bahwa dia mewariskan seekor kuda dan pedang, dan dia mengirimkannya kepada Umar ibn Khatab R.A. Dan ketika Umar R.A. melihatnya, dia mulai menangis. Dia berkata “Abu Bakar R.A. jauh lebih mengenal seseorang dibandingkan diriku.” Dia menyadari keutamaan Khalid ibn Walid R.A.

Dapatkah orang lain menunggangi kudanya Khalid? Tidak! Karena orang lain tidak akan bisa memenuhi hak kuda itu. Dapatkah orang lain memakai pedangnya Khalid? Tidak! Karena orang lain tidak akan bisa memenuhi hak pedang itu. Karena Khalid R.A. berada pada level yang berbeda.

Dan riwayatnya menyebutkan, bahwa ketika Khalid R.A. meninggal dunia, para wanita dari Bani Makhzum keluar dan menangis, sedangkan Umar mempunyai aturan yang ketat bahwa para wanita tidak boleh keluar dan menangis. Bahkan ketika Abu Bakar R.A. meninggal dunia, para wanita berkumpul di rumah Aisyah R.A., mereka menangis, dan Umar mengusir mereka.

Tapi ketika Khalid ibn Walid R.A. wafat, seseorang datang kepada Umar R.A. dan dia berkata “Wahai Umar, para wanita dari Bani Makhzum menangisi Khalid ibn Walid R.A.”, dan Umar R.A. berkata “Semoga ibumu kehilangan dirimu, karena untuk orang seperti Khalid ibn Walid R.A., orang-orang yang menangis, haruslah menangis.”

Kemudian Umar R.A. mendengar ibunya Khalid R.A. membaca sebuah puisi. Ibunya Khalid R.A. berpuisi “Kau lebih baik daripada jutaan orang. Ketika musuh-musuhmu terjatuh di hadapanmu, kau lebih berani daripada seekor singa dan seekor macan. Kau lebih dermawan daripada banjir yang mengalir menuruni gunung.” Dan Umar R.A. berkata “Ibunya Khalid ibn Walid R.A. telah berbicara benar.”

Aku bersumpah, Demi Allah, jika Khalid lebih baik dari jutaan orang di masanya, maka dia lebih baik daripada milyaran orang di masa sekarang. Dan faktanya adalah, tidak akan ada orang lagi yang bisa menyamai Khalid. Demi Allah, jika kau melihat Khalid R.A., dia adalah perpaduan Frederick The Great, Genghis Khan, Napoleon, Temur, semuanya dalam satu! Dia lebih baik daripada mereka semua jika disatukan! Dan tidak akan ada Khalid ibn Walid R.A. yang lainnya. Seperti yang dikatakan Abu Bakar R.A., dan dia bersaksi atas Khalid ibn Walid R.A., dia berkata “Para wanita tidak akan melahirkan orang seperti Khalid ibn Walid R.A. lagi.”

Semoga Allah mengangkat derajat Khalid ibn Walid R.A. Semoga Allah S.W.T. mempertemukan kita dengan orang-orang seperti Khalid ibn Walid R.A. dan para sahabat R.A. di hari kiamat! Aamiin.sumber

Inilah Karya Hebat Anak Indonesia

Inilah Karya Hebat Anak Indonesia

Sudah bukan cerita baru kalau penemuan anak bangsa, sering kali malah tidak mendapat tempat di negara asalnya. Padahal, sejumlah karya mereka patut diperhitungkan.

Meski dengan segala keterbatasan, mereka justru mampu berinovasi menciptakan alat cukup hebat dan memiliki banyak manfaat. Di usia belia, para pelajar di Indonesia justru memperlihatkan tajinya dalam perang teknologi.

Seperti yang dilakukan Annisa Puteri Raka, siswa SMAN 6 Yogyakarta. Dia memiliki ide membuat Sepatu Anti Maling (Santiling).

“Ide awal pembuatan Santiling ini adalah ketika sandal dan sepatunya sering hilang saat ditinggal di halaman rumah dan masjid. Pada awalnya sih ikhlas-ikhlas saja, tapi lama-lama tekor juga beli sepatu dan sandal terus,” kata Annisa kepada VIVAnews di LIPI Jakarta, Jumat 15 November 2013.

Teknologi Santiling yang dibuat Annisa terdiri atas dua macam, Santiling Mini Switch dan Santiling Reed Switch.

Untuk Santiling Mini Switch, cara kerjanya adalah ketika sepatu mengalami tekanan atau diinjak oleh orang lain, maka alarm akan berbunyi. Sementara itu, Reed Switch adalah ketika jarak sepasang sepatu sudah berjauhan, maka alarm akan berbunyi.

Teknologi Santiling, menurut Annisa, bekerja dengan sistem remote control. Ketika tombol Santiling sudah di dalam posisi ON, maka saat jarak sepasang sepatu sudah berjauhan dan mengalami tekanan (diinjak), sensor akan mengirimkan sinyal ke alarm di sepatu dan di remote control.

“Dengan alat Santiling, maka orang-orang tidak perlu khawatir sepatu dan sandalnya hilang saat jauh dari pengawasan,” ujar Annisa.

Penyiram Tanaman dengan Ponsel

Karya tak kalah hebat juga ditunjukkan oleh dua orang anak siswa kelas lima di Sekolah Dasar Muhammadiyah Manyar, Gresik, Jawa Timur.

Adalah Fatima Ezzat dan Aurumita yang berhasil menciptakan alat penyiram tanaman dengan ponsel.

Konsep bernama Autopot ini memanfaatkan ponsel bekas untuk menyiram tanaman di mana dan kapan saja. Sistemnya memindahkan energi kimia menjadi energi listrik dan gerak.

Cara kerja dari alat Autopot dengan menyambungkannya dengan ponsel bekas. Lalu, dinamo akan bergerak menyedot dan memancurkan air jika ada sambungan telepon masuk.

“Jadi, prosesnya adalah ketika menelepon ke ponsel bekas, maka getaran dari ponsel bekas itu akan mengubah energi gerak menjadi listrik dan selanjutnya akan memberikan tekanan pada air,” ujar Fatima dan Aurumita, kepada VIVAnews.

Aurumita mengaku memiliki hobi menanam. Namun, karena sering bepergian ke luar kota, dia kerap lupa menyiram tanamannya. Dari sini lah ide menyiram tanaman dari jarak jauh bermula.

“Lalu, saya berpikir bagaimana menciptakan alat untuk menyiram tanamannya secara otomatis. Akhirnya, saya menemukan ide menyiram tanaman hanya dengan melakukan panggilan telepon,” ujar Aurumita.

Biaya pembuatan alat Autopot ini hanya Rp350 ribu. Komponennya terdiri atas botol bekas, ponsel bekas, kabel, SIM card, sedotan, dinamo, selotip, baterai, komponen listrik, dan penyemprot air dari mobil bekas.

Gelang Anti Penculikan

Penemuan alat berawal dari masih maraknya kasus penculikan terhadap anak-anak di Indonesia. Situasi ini menjadi ide bagi Nurina Zahra dan Tri Ayu Lestari, siswi SMAN 6 Yogyakarta, yang menciptakan Gelang Anti Penculikan (GAP) dengan sensor alarm otomatis.

“Gelang ini dirancang khusus untuk mengontrol anak atau bayi jika berada jauh dari jangkauan orangtuanya. Apabila si anak sudah berada jauh dari orangtuanya, maka alarm yang ada gelang orang tuanya akan berbunyi,” kata Nurina saat berbincang dengan VIVAnews.

Mekanisme dari Gelang Anti Penculikan ini adalah gelang yang dipakai oleh anak sudah berisi transmitter yang akan mengirimkan sinyal RX radio ke gelang milik orangtua.

Sinyal yang diterima oleh RX Radio akan masuk ke micro controller, kemudian dikeluarkan oleh alat buzzer berupa bunyi alarm.

Alarm akan berbunyi ketika orangtua dan anak berjarak 3 meter. Tapi, menurut Tri Ayu Lestari, ke depannya akan ditambah jaraknya supaya lebih jauh.

Selain menambahkan jarak, keduanya akan menambahkan fitur GPS untuk melihat lokasi anak ketika sudah berada jauh dari orang tuanya. “Fitur GPS itu akan memudahkan orangtua untuk mengetahui lokasi anak ketika benar-benar diculik,” kata Tri.

Keduanya punya harapan besar Gelang Anti Penculikan ini bisa diproduksi secara massal. “Mudah-mudahan alat ini bisa mengurangi kasus hilang atau diculiknya anak oleh orang-orang jahat,” ujarnya.

Rompi Canggih “Gadget Vest”

Dari gelang anti penculikan, kini beralih kepada mereka yang sangat tergantung dengan perangkat gadget, termasuk smartphone.

Penggunaan pengisi daya ponsel portabel, atau populer dengan istilah powerbank, semakin marak digunakan oleh para pengguna ponsel pintar.

Tapi, terkadang aktivitas mengisi daya ponsel dengan powerbank cukup mengganggu, pengguna ponsel harus menenteng ponsel dan powerbank secara bersamaan.

Kondisi itu membuat Yosua Imantaka, siswa SMAN 6 Yogyakarta, memutar otak. Dia kemudian memiliki ide membuat sebuah rompi yang membuatnya tidak kerepotan ketika membawa ponsel dan powerbank secara bersamaan.

Selain itu, rompi ini bisa menghindari tubuh dari efek gelombang elektromagnetik dari ponsel.

“Gadget Vest adalah sebuah rompi yang berfungsi untuk membuat pengguna memiliki ruang untuk menaruh ponsel yang sedang dicash powerbank. Selain itu, rompi dapat melindungi penggunanya dari terkena gelombang elektromagnetik dari ponsel,” kata Yosua.

Ide awal pembuatan Gadget Vest, dia melanjutkan, terinspirasi oleh baju pramuka perempuan yang memiliki banyak kantong untuk menyimpan barang.

Bahan-bahan untuk membuat Gadget Vest terdiri atas rompi anti air, kain flanel (bahan kain yang lembut dan tidak mudah robek), organite (bahan anti radiasi elektromagnetik ponsel yang terbuat dari risin fiberglass dan kristal quartz), dan daktron (berfungsi untuk mengurangi dampak benturan pada ponsel dan menahan panas dari sinar Matahari).

Biaya total pembuatan Gadget Vest cukup terjangkau, totalnya hanya sekitar Rp335 ribu.

Helm Berlampu Sein

Temuan kali ini cukup penting untuk menekan angka kecelakaan lalulintas. Berawal dari banyaknya penyebab kecelakaan, ketika lampu sein pada sepeda motor sudah tertutup oleh barang-barang dagangan atau pun gerobak.

Untuk mengurangi kecelakaan akibat kondisi kendaraan bermotor yang minim fasilitas lampu sein, maka dua siswa asal SMP Islam Al Azhar 26, Yogyakarta, Naufal Rasendriya Apta dan Archel Valiano menciptakan sebuah helm yang sudah dilengkapi dengan lampu sein.

Cara kerja dari helm yang dilengkapi dengan lampu sein ini juga cukup mudah. Jika pengendara ingin berbelok ke kiri, pengendara cukup menggelengkan kepala ke kiri dan lampu sein bagian kiri menyala. Begitu pun ketika akan berbelok ke kanan.

Sementara itu, untuk mematikan lampu sein, pengendara cukup menganggukkan kepala sebanyak dua kali. Lampu sein akan otomatis langsung mati.

Alat-alat yang dibutuhkan untuk pembuatan helm berlampu sein ini terdiri atas sensor accelero meter, micro controller AT Mega 8, lampu sein (kanan dan kiri), serta baterai.

Hasil buah karya Naufal dan Archel akhirnya keluar sebagai pemenang kedua untuk kategori National Young Inventors Award (NYIA) di Kompetisi Ilmiah LIPI.

Jaring 2.500 Karya Ilmiah 

Semua penemuan ini adalah finalis dari kategori National Young Inventor Awards (NYIA) di Kompetisi Ilmiah yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 14-15 November 2013.

LIPI sengaja menggelar Kompetisi Ilmiah untuk merangsang munculnya inovator-inovator muda yang nantinya bakal diadu di tingkat internasional.

Kompetisi ini terdiri atas serangkaian lomba, di antaranya Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-45, Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) ke-21, Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-12, dan National Young Inventor Award (NYIA) ke-6.

Menurut Kepala LIPI, Lukman Hakim, era globalisasi yang sangat kompetitif ini, anak-anak bangsa harus meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Khususnya untuk menciptakan sumber daya manusia berbasis iptek.

“LIPI merasa pentingnya pendidikan iptek di kalangan remaja. Kompetisi ilmiah ini untuk meningkat kemampuan anak-anak bangsa dalam menciptakan solusi-solusi teknologi di masa depan,” kata Lukman.
Pada tahap awal Kompetisi Ilmiah 2013 ini, LIPI menjaring 2.500 karya ilmiah. Tapi, setelah diseleksi berhasil menetapkan 103 finalis karya ilmiah.

Nantinya, ke-103 finalis akan mempresentasikan karya ilmiahnya di depan dewan juri dan ditetapkan pemenangnya dari masing-masing kategori.

“Nanti, karya ilmiah terbaik untuk kategori LKIR dan NYIA akan diberangkatkan ke ajang internasional. Seperti ajang Intel International Science and Engineering Fair pada 2014 dan International Exhibition for Young Inventors 2014,” ujar Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono.

TRAGEDI CINTA

Muhammad Anis Matta
 
Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.
Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.

Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!

Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!  Serial Cinta Tarbawi, Anis Matta
◄ Newer Post Older Post ►

Para Sahabat

Nasehat Sang Murabbi

Nasehat Sang Murabbi

Sekilas

Sekilas
Bukanlah seorang penulis apalagi seorang plagiator, tapi coba berbagi atas apa yang di dengar, di lihat dan di baca....

Nasyid

Jangan lupa di LIKE ya,,,

×
 

Copyright 2011 Blog Kita79 is proudly powered by blogger.com | Design by BLog BamZ