print this page Klik Print

Khiththah Idaratul Ma’rakah

(Langkah-langkah Mengelola Pertempuran)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin
Dalam sebuah perjuangan pertempuran yang secara terus-menerus kita hadapi, yang paling pertama yang harus betul-betul mendapat perhatian adalah:

Khiththah Takhthithiyah (Strategi perencanaan)

Strategi perencanaan Insya Allah selalu mendahului setiap ma’rakah  yang dilalui dakwah kita ini. Dari awal ta’sis seluruhnya dengan perencanaan. Secara amaliyan dan tanzhimiyan seluruhnya terencana secara baik. Sudah tentu pelibatan-pelibatan terhadap perencanaan semakin luas dan akhirnya Alhamdulillah, lembaga perencanaan semakin kokoh, semakin kuat, dan pelibatannya semakin luas. Insya Allah ini akan menimbulkan efek positif di dalam jama’ah dakwah kita.

Di era saat ini, kita harus mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah bagaimana kita pun menerima asupan-asupan dan masukan-masukan dari public. Dan itu juga sudah antum harus lakukan agar betul-betul apa yang kita rencanakan itu bernilai aspiratif tinggi. Umat pun dilibatkan dalam perencanaan. Bahkan komponen bangsa dari aneka ragam kelompok atau komunitas di bangsa ini pun ikut terlibat dalam memberikan kontribusi dalam perencanaan kita. Itu seharusnya selalu kita lakukan.

Kalau tidak kita lakukan pelibatan-pelibatan yang luas itu, maka langkah kita akan terhenti. Tidak mungkin—na’udzubillah—maju dari mihwar muassasi menuju mihwar daulah kalau pelibatan-pelibatan itu hanya berputar-putar secara internal. Pelibatan-pelibatan harus menjadi luas, termasuk dalam bahan-bahan perencanaan sekalipun.

Khiththah Tajmi’iyah (Langkah Menghimpun)

Khiththah tajmi’iyyah yaitu jam’ut thaaqah (menghimpun potensi) yang meliputi hal-hal berikut: Pertama, Al-Muhafazhah ‘ala muktasabat, memelihara apa yang sudah kita hasilkan, yaitu potensi jama’ah dakwah ini, potensi kebersamaan dalam jama’ah ini, potensi ukhuwah, potensi ta’awun, potensi tadhamun. Inilah modal awal kita. Semangat kebersamaan bukan saja harus utuh, tapi harus semakin berkembang, harus semakin produktif. Tidak boleh ada yang merasa terlepas dari hadlanatul jama’ah (pelukan asuhan jama’ah). Tetap semuanya ada dalam kehidupan amal jama’iy, yang disana merasakan ada kehangatan, al-hanun. Hananatul Umm, bagaikan hangatnya pelukan ibu yang dilakukan oleh jama’ah.

Kedua, isyrakul ghair. Sudah barang tentu kita juga harus dapat menghimpun potensi luar. Salah satu indicator keberhasilan musyarakah adalah isyrakul ghair (pelibatan orang lain). Ia adalah suatu kerja yang produktif. Jika musyarakah tidak berhasil melakukan khutuwat tajmi’iyah potensi-potensi di luar jama’ah kita, berarti musyarakah kita gagal. Kita cuma numpang hidup tapi tidak memberikan harapan hidup bagi orang lain.

Kekokohan potensi internal, semangat kebersamaan harus tetap dibangun, dibina, dikokohkan. Begitu juga kebersamaan dalam ruang lingkup keumatan, kehidupan berbangsa dan bernegara harus kita kembangluaskan.

Khuthuwat tauzhifiyah (Langkah Pemungsian)

Setelah dihimpun, semua orang harus difungsikan. Tidak boleh ada yang marginal, yang merasa disisihkan, yang merasa disepelekan. Seluruhnya harus berfungsi, harus berperan. Sebab kalau orang berposisi mauqif janibi (potensi yang marginal) nantinya menjadi beban, bahkan menjadi ancaman, menimbulkan ma’rakah janibiyah (pertempuran sampingan). Kalau dibiarkan akan timbul ma’rakah dakhiliyah (pertempuran di dalam). Ini akibat tidak terfungsikannya potensi. Disinilah pentingnya kemampuan kita dalam tauzhif, melakukan tanassuq kulli (sinkronisasi secara integral) ataupun tanassuq dzati (sinkronisasi secara sektoral).

Lihatlah air ketika terhimpun di dalam kolam lalu tidak ada output. Dia sudah masuk dalam wadah yang benar, sudah masuk ke dalam mudkhala shidqin, tapi kalau tidak diberi mukhraja shidqin, air itu akan menjadi kotor. Tumbuh lumut dan seterusnya. Tapi kalau air itu masuk melalui prosedur yang benar, dan ditata secara benar potensinya, mengalir secara benar, insya Allah air itu akan tetap bersih dan tetap mengalir, tetap menggerakkan dan bahkan menggerakkan yang lain.

Manusia juga sama. Dihimpun dalam jama’ah, lalu dihimpun dalam suatu wadah besar perjuangan dakwah.Tapi bila tidak difungsikan secara benar dan digerakkan secara baik, maka dia akan menjadi kotor. Bisanya polusi yang mudah terasa itu muncul di mulut. Mulutnya mulai kotor. Itu bisaanya karena kurang kerjaan. Kalau orang itu sibuk kerja, punya wazhifah yang benar-benar sibuk, tidak sempat berkata usil segala macam. Mulai kotor dari mulut, nanti kepada ruhnya. Apalagi sekarang bisa diwakilkan lewat sms, bisa didelegasikan ke sms, ke internet dan sebagainya. Itu adalah efek dari masalah tauzhif yang kurang maksimal.

Khuthuwat Tahfizhiyah (Langkah Pemeliharaan)

Khuthuwat Tahffizhiyah itu ada lima. Yaitu: musyarakah ‘indal qarar (musyarakah dalam menentukan ketetapan), tasyji’ ‘indal ijtihad (dorongan berijtihad), da’m indal tanfidz (dukungan dalam pelaksanaan), I’tiraf ‘indal injaz (pengakuan ketika berhasil), inshaf ‘indal khatha (bersikap adil ketika menghadapi kesalahan).

Musyarakah ‘indal qarar
Semakin besar jama’ah dakwah kita, maka kreasi kita dalam memberikan tauzhif (pemungsian) dan tahfizh (pemeliharaan) kepada seluruh komponen jama’ah harus kreatif kita ciptakan. Coba diadakan tampungan-tampungan. Bisa jadi dapat dihadirkan orang luar untuk merangsang tumbuhnya ide-ide atau aspirasi tersebut. Pelibatan semakin luas, sense of belonging dari berbagai komponen semakin kuat terhadap jama’ah dan dakwah ini.

Tasyji’ ‘indal ijtihad
Aspirasi-aspirasi jangan disumbat. Ijtihadat mulai dikembangkan terus menerus. Jangan berhenti. Kita selalu inovatif dalam langkah-langkah dakwah. Jangan sampai menjadi jenuh dan bosan karena ijtihad dan aspirasi inspirasi terhenti.

Da’m indal tanfidz
Dukungan diberikan ketika melaksanakan tugas. Minimal dengan do’a. Syukur-syukur dengan dana. Jadi semua ikhwah merasa didukung dalam melaksanakan tugasnya. Jangan sampai terjadi betapa pun kita sudah melakukan pembagian tugas, melakukan kompartemensasi. Kehidupan jama’ah ta’awun ini harus hidup. Jangan sampai nafsi-nafsi. Kita harus jama’iy ta’awuniy. Da’m itu bisa bersifat da’m ikhawi (dukungan persaudaraan) dan da’m tanzhimi (dukungan structural). Kalau da’m tanzhimi sifatnya structural, sedangkan da’m ikhawi sifatnya personal tanpa melihat jabatan dan bidangnya. Ini penting dilakukan supaya kokoh amal jama’i kita. Jadi jangan sampai melihat sesuatu tidak berjalan dibiarkan saja karena bukan tugas kita. Paling tidak kita memberikan saran, mendo’akan, syukur juga bila memikirkan pendanaannya, pembiayaannya antar bidang atau antar personal.

I’tiraf ‘indal injaz
Pengakuan-pengakuan akan keberhasilan harus ada. Pengakuan itu penting karena seseorang merasa diakui eksistensinya. Bukan hanya secara fisik, secara structural, tapi secara amaliyah. Apalagi kita juga pengalaman menyediakan hadiah-hadiah bagi wilayah tertentu atau bagi komunitas tertentu. Dimana kita menghadiahkan umroh, bahkan hadiah haji dan seterusnya. Itu adalah bagian dari I’tiraf ‘indal injaz.

Al-Inshaf ‘indal khatha
Adil menyikapi kesalahan. Ingat, dalam ma’rakah ini pelakunya adalah manusia. Kemungkinan ada salah, kemungkinan kepeleset adalah sebuah kewajaran. Itu adalah unsur dari sifat kemanusiaan. Mahallul khatha’ wa nisyaan adalah manusia. Manusia disebut insan itu karena suka lupa. Oleh karena itu inshaf, jangan sampai mengukur ikhwah, teman berjuang dan orang dari luar dengan ukuran yang tidak mungkin salah.

Kita harus memberikan jatah salah, tapi jangan meminta jatah salah. Kepada setiap orang diberikan space kemungkinan bersalah. Sehingga kalau salah jangan kaget. Kemudian kalau terjadi salah, jangan serta merta lalu memuhasabah dia, tapi muhasabah diri kita dulu. Apa kontribusi kita sehingga dia tidak bersalah. Atau bahkan apa kontribusi kita sampai dia salah. Siapa tahu kita ikut andil dalam membuat dia salah. Jadi ittihamu dzat (menuduh diri sendiri) adalah menjadi akhlak da’i. Dengan pendekatan ma’nawiyah seperti itu, ketika kita memuhasabahi dia menjadi lembut, santun, menjadi nyaman bahasanya. Tapi kalau belum apa-apa sudah cenderung menyalahkan dulu, akan membuatnya lari dan jauh. Akan lebih buruk akibatnya.

Khuthuwat Riqabiyah (Langkah Pengawasan)

Jangan lupa dengan khuthuwat riqabiyah, sebab langkah kita itu harus teratur dan terukur. Keteraturan dan keterukuran itu awalnya dari takhtith (perencanaan), ujungnya itu riqabah (pengawasan). Antara perencanaan dan pengawasan adalah dua sejoli yang tidak boleh dipisahkan. Sudah barang tentu sebagai pimpinan dalam pengawasan harus bijak, harus tetap melihat dari sudut pandang kemanusiaan. Riqabah itu bukan yufattisy, tapi memantau. Sebab yufattisy itu ngorek-ngorek. Dan pemantauan yang paling mudah itu adalah dari efek-efek kerja, efek bergerak dan hasil pekerjaan.

Riqabah itu bukan hanya kepada perencanaan-perencanaan kita. Karena di lapangan itu yang bergulir adalah aneka program. Di lapangan itu bias jadi terjadi tadharrub (saling bertabrakan) antara program kita dengan program orang lain. Tapi bias jadi juga ada tawafuq (saling kesesuaian) dalam titik tertentu. Nah dalam tawafuq itulah kita bias mengambil keuntungan-keuntungan dari program-program orang lain.

Apalagi di Indonesia ini seluruh rival kita, yang sekuler sekali pun konstituennya, pimpinannya adalah umat Islam juga. Sehingga mungkin saja muncul langkah-langkah mereka yang ada tawafuq. Dan kita tidak bisa melihat itu kalau kita tidak mempunyai ijabiyatur ruýah (pandangan positif). Pandangan positif itu dasarnya adalah begini: Al-Islam kullul haq (Islam itu seluruh kebenaran), Al-Haqqu kulluh (seluruhnya benar) adalah Islam. Tapi di luar Islam bisa jadi ada juzún minal haq (sebagian dari kebenaran). Karena kebenaran itu selain bersumber dari wahyu, juga bersumber dari fitrah. Walaupun ia di luar lembaga Islam, fitrahnya kan ada. Akhirnya muncul juga kebenaran dari fitrah itu pada berbagai macam orang. Makanya kita tidak boleh menggeneralisir kepada orang lain dengan mufaraqah, dengan landasan furqan: kita benar semuanya, mereka salah semuanya. Kita harus melihat dengan ijabiyatu ruýah kemungkinan adanya unsur-unsur tawafuq dari segi program atau tawafuq dari segi personal.

Khuthuwat Tarbawiyah (Langkah pembinaan)

Artinya segala potensi yang dihimpun, terutama dari luar ke dalam, harus ada langkah-langkah muhafazhah (penjagaan) kepada mereka. Muhafazhah thaaqah (potensi) harus dipelihara. Jangan sampai potensi yang sudah kita gunakan lalu terbengkalai. Tidak dipelihara, tidak dijaga hubungan, tidak ada komunikasi, tidak ada pelibatan-pelibatan lanjutan, tidak ada pengembangan-pengembangan lanjutan. Harakah ini harus menjaga potensi yang disertakan dalam setiap marhalah untuk ikut ke dalam marhalah berikutnya. [ ]

Animated Recent Post

Recent post menunjukkan apakah post terbaru yang baru dihasilkan oleh seseorang blogger untuk blognya. Adanya animated recent post widget, dapat menambahkan lagi 'seri' bagi senarai recent post anda.



.Tutorial untuk membuat animated recent post ini adalah seperti berikut.

1. Dari dashboard > design > add a gadget > HTML/javascript

2. Copy dan paste kod di bawah ke dalam ruangan HTML/javascript yang anda buka.


<style type="text/css">
#rp_plus_img{height:377px;}
#rp_plus_img li {height:60px;padding:5px;list-style:none;
background-color:#ffffff;
border:solid 1px #000000;}
#rp_plus_img a{color:#00000;}
#rp_plus_img .news-title{display:block;font-weight:bold ;margin-bottom:4px;font-size:11px;
text-align:justify;
-moz-border-radius: 5px;}
#rp_plus_img img{float:left;margin-right:14px;padding:4px;border:solid 1px #00000;width:55px;height:55px;}
</style>
<script type="text/javascript" src="http://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.4.2/jquery.min.js"></script>
<script type="text/javascript" src="https://sites.google.com/site/unwanted86/javascript/recentpost.js"></script>
<script type="text/javascript">
var speed = 1500;
var pause = 3500;
$(document).ready(function(){
rpnewsticker();
interval = setInterval(rpnewsticker, pause);
});
</script>
<ul id="rp_plus_img">
<script style="text/javascript">
var numposts = 5;
var numchars = 0;
</script>
<script src="/feeds/posts/default?orderby=published&alt=json-in-script&callback=rpthumbnt"></script>
</ul><small><a href="http://rabbani79.blogspot.com/2013/05/animated-recent-post.html" target="_blank">rabbani79.blogspot.com</a></small>

3. Save dan lihat hasilnya. Selamat mencoba

sumber

Teman yang Membahagiakan


Menjalin pertemanan tentu hal yang menyenangkan bukan? Apalagi pertemanan yang terjalin sudah cukup lama, bahkan sudah menjadi pelengkap satu sama lain. Tawa, sedih, suka duka, canda pasti pernah dirasakan bersama. Dan tak hanya itu, banyak pelajaran yang bisa diambil dalam hubungan pertemanan. Lalu bagaimana mempertahanakan sebuah hubungan pertemanan??
1. Pasang Niat
 
Diantara kita banyak yang melupakan hal ini.  Menjalin hubungan pertemanan begitu saja tanpa ada niat dan visi menambah kebaikan.  Padahal, bukankah kebaikan itu bernilai pahala? Nahhh… coba landasi niat baik pertemanan karena Allah Ta’ala. Insya Allah kalau hal ini menjadi pijakan dasar pertemanan pasti segala permasalahan yang terjadi dalam pertemanan dapat terselesaikan dan bahkan bisa jadi lebih baik dan lebih dekat. Kecewa, kesal, marah pasti ada dalam pertemanan. Namun menjaga niat dan visi hanya karena Allah, Insya Allah, segala permasalahan terpecahkan dengan baik.
2. Kenali Temanmu
 
Sudah mengenal lama, apa yakin bisa menilai seseorang secara keseluruhan? Bukankah sifat seseorang bisa berubah-ubah? Mmmm…. Point terpenting juga dalam menjaga kelanggengan pertemanan adalah mengenali Ia sepanjang pertemanan berlangsung lalu teruslah beradaptasi. Dalam proses adaptasi itu, coba kenali pahami hal apa yang membuatnya marah , kecewa atau bahkan suatu hal yang bisa mengubahnya.
Jangan sampai ternyata ada perkataan yang membuatnya minder, tersinggung atau merasa rendah diri. Hindari suudzan dan juga latih diri agar teman kitapun tidak memunculkan perasaaan suudzan. Karena bisa jadi prasangka buruk (suudzon) muncul karena kita sendiri yang membuat peluang prasangka tersebut.
c  3. Memberilah 
Bukankah ajaran kita juga mengajarkan untuk saling menyanyangi? Salah satunya adalah melalui pemberian hadiah. Ini salah satu cara agar timbul kasih sayang diantara kita. Banyak cara lain juga untuk memunculkan rasa kasih saying, misalnya pasang  foto bersama di Display Picture BB ,saling mengirim pesan pengingat dan yang pasti hal yang tidak boleh dilupakan juga mendoakan dia dalam keadaaan dia tahu atau tidak. Bukankah mendoakan orang lain, sama saja mendoakan diri kita sendiri? Yuks sebut nama teman dalam panjatan doa kepada Allah SWT.
4. Perhatikan Gaya hidup
Kenapa perhatian terhadap  gaya hidup teman adalah salah satu caranya? Hmmm.. coba deh, muhasabah lagi gaya hidup kita. karena bisa jadi gaya hidup kita yang berkecukupan membuat teman minder,  sengaja atau tidak membuat hati teman lemah dengan perkataan yang menyudutkannya. Misalnya, bukankah dalam pertemanan berbeda pendapatan pasti akan terjadi?
Pendapatan berbeda tentu gaya hidup pun berbeda. Disinilah point kita untuk bisa menempatkan diri, karena bisa jadi gaya hidup kita yang berkecukupan secara tidak sengaja terbawa hingga kepertemanan, sehingga teman yang biasa-biasa saja agak sungkan untuk bergabung kepada kita.
Tempatkan posisi kita di tempat yang aman. Coba masuki dan pahami gaya hidupnya. Walaupun berbeda pendapatan jangan sampai menyinggung atau bahkan teman yang awalnya nyaman menjadi tidak nyaman saat bersama kita. alhasil sayang banget seandainya kehilangan satu teman karena keegoisan kita.
     5. Maafkanlah
Tidak dipungkiri perbedaan pendapat dalam pertemanan pasti ada. Kuncinya adalah memaafkan. Coba tekan lagi ego yang ada dalam diri, ingat kembali niat awal pertemanan. Kalau hanya Allah yang menjadi landasan awal pertemanan memaafkan itu akan mudah. Dan iringi juga dengan berbuat baik maskipun pernah tersakiti. Lakukanlah kebaikan itu. karena Allah Maha Tahu dan tidak mungkin disia-siakan. Yakinlah setiap perbuatan memiliki ganjarannya.
Dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan yang buruk itu seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya atau engkau membelinya atau engkau hanya akan mencium harumnya. Sementara pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium bau yang tidak sedap” (Bukhari dan Muslim).
Melalui hadits tersebut, semoga kita senantiasa menjadi seorang teman yang selalu membawa “keharuman” (red-Kebahagiaan) untuk teman kita, karena sejatinya bila seorang teman sudah bahagia bersama kita tidak menutup kemungkinan terbukanya ragam ilmu yang akan kita peroleh dan pintu silaturrahmi pun akan luas terbuka

Tipudaya, Kecerdikan, dan Latihan Berpikir

Abbas Hasan As Sisi

Saya sangat “kagum” pada orang-orang Yahudi. Sampai hari ini, mereka masih tetap membuahkan idea-idea baru tentang tipudaya dan rekacipta dengan berbagai macam variasinya. Seakan mereka memiliki lembaga khusus tentang hal ini, baik dalam bidang perdagangan, peperangan, maupun politik.

Saya teringat sebuah anekdot yang terjadi di kota Rasyid, sejak sebagian bangsa Yahudi berdomisili di sana. Ada seorang Yahudi menjual rumahnya kepada seorang penduduk kota Rasyid dengan transaksi yang resmi. Setelah beberapa tahun berlalu, datanglah orang Yahudi tersebut ke sekitar rumah itu dengan membawa sejumlah batu bata, kayu bangunan, semen, dan kapur. Ketika pemilik rumah bertanya, “Apa yang sedang Anda kerjakan di sini?”

Ia menjawab, “Saya datang untuk membangun!”

“Mau membangun apa?” tanya pemilik rumah?

 ”Saya akan membuat bangunan baru di atas rumah ini!” jawab Yahudi.

“Bukankah rumah ini sudah kamu jual dan telah kamu terima uangnya beberapa tahun lalu?” kata pemilik rumah.

Si Yahudi menjawab, “Ya, tetapi yang saya jual hanya sampai atap rumah. Masih menjadi hak saya untuk membangun di atas atapnya sampai setinggi-tingginya!”

Anekdot ini terjadi sebelum pendudukan bumi Palestina, Jalur Gaza, dan Tepi Barat Sungai Yordan. Sekarang Israel mengatakan, “Bangsa Arab boleh tinggal di bumi Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan, tetapi tidak punya hak milik sama sekali. Bumi ini tetap milik Israel.” Masih sama saja, itulah tipudaya Yahudi. Apa bedanya antara malam ini dengan kemarin malam!

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sangat memahami tipudaya Yahudi yang dapat menaklukkan dunia itu. Ketika menjadi khalifah, beliau menjumpai seorang Yahudi di Madinah, yang menyimpan sumur penampung air. Ia menguasai sumur itu, yang airnya dijual kepada kaum Muslimin. Maka khalifah menawar kepada Yahudi agar menjual sumur itu kepadanya, untuk disedekahkan kepada kaum Muslimin. Tetapi si Yahudi itu menolak tawaran khalifah. Kemudian khalifah mengatakan, “Juallah sebagian sumur ini padaku, yakm kamu meng-ambil air sehari dan saya juga mengambil air sehari!”

Akhirnya Yahudi itu setuju. Khalifah berkata, “Kaum Muslimin berhak mengambil air secukupnya pada hari giliranku. Pada saat giliranmu mereka tidak akan mem-belinya sedikit pun!”

Setelah beberapa hari, ia merasa  tertekan karena embargo kaum Muslimin kepadanya. Maka tidak ada alternatif lain kecuali ia harus menjual bagiannya kepada Khalifah.

Semoga kisah ini dapat menyadarkan dan menggugah pikiran kaum Muslimin. Yang lalu biarlah berlalu, kebaikan pasti akan datang.

Suatu hari, Khalifah Al Mahdi sedang duduk-duduk bersama beberapa orang, tiba-tiba masuklah seorang lelaki dengan membawa sandal yang terbungkus sapu tangan.

Lelaki itu berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, ini adalah sandal Rasulullah, saya hadiahkan untuk Tuan!”

Beliau pun menerima dan meletakkan di hadapannya, lalu menyerahkan sepuluh nbu dirham kepada lelaki tersebut. Ketika ia pergi, beliau berkata kepada orang-orang yang sedang duduk bersamanya, dan membuat mereka semua terkejut “Saya tahu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mungkin pernah melihat sandal itu, apalagi memakainya. Tetapi bila kita dustakan orang tadi, ia akan menyebarkan fitnah kepada orang lam. Sebaliknya, bila ia kita terima maka ia akan mengatakan kepada orang lain, ‘Saya telah menghadap khalifah dengan membawa sandal Rasulullah, tetapi beliau malah mengembalikan lagi sandal tersebut kepada saya, bahkan saya menerima hadiah.”‘

Beliau tidak tergesa-gesa bertindak sebelum berpikir. Bahkan beliau berpikir sebelum bersikap. Itulah sikap yang bijak.

sumber
◄ Newer Post Older Post ►

Para Sahabat

Nasehat Sang Murabbi

Nasehat Sang Murabbi

Sekilas

Sekilas
Bukanlah seorang penulis apalagi seorang plagiator, tapi coba berbagi atas apa yang di dengar, di lihat dan di baca....

Nasyid

Jangan lupa di LIKE ya,,,

×
 

Copyright 2011 Blog Kita79 is proudly powered by blogger.com | Design by BLog BamZ